pengaruh cahaya terhadap perkecambahan jagung dan kacang

Jumat, 05 April 2013

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN


BAB II
PEMBAHASAN

1.    DEFINISI MODEL PEMBELAJARAN
Menurut Isjoni (dalam Anonim: 2011:1), model pembelajaran adalah strategi yang digunakan oleh guru untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, sikap beajar di kalangan siswa, mampu berpikir kritis, memiliki keterampilan sosial dan pencapaian hasil pembelajaran yang lebih optimal. Menurut Didang (dalam Rahmi, 2011:1), model pembelajaran adalah sebagai suatu disain yang menggambakan proses rincian dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri siswa. Jadi, model pembelajaran adalah serangkaian kegiatan pembelajaran yang secara khas disajikan oleh guru guna menciptakan iklim belajar yang lebih kondusif untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Lebih lanjut Ismail (dalam Widdiharto, 2006: 3)  menyebutkan bahwa istilah model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yaitu:
- rasional teoritik yang logis yang disusun oleh penciptanya,
- tujuan pembelajaran yang hendak dicapai,
- tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut berhasil,
- lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran tercapai.

2.    MACAM-MACAM MODEL PEMBELAJARAN
Berikut adalah macam-macam model pembelajaran
1.      Model pembelajaran langsung
2.      Model pembelajaran kooperatif
2.1.       Model pembelajaran kooperatif tipe Make and Match
2.2.       Model pembelajaran kooperatif tipe Bertukar pasangan
2.3.       Model pembelajaran kooperatif tipe berpikir-berpasangan-bereempat
2.4.       Model pembelajaran kooperatif tipe berkirim salam dan soal
2.5.       Model pembelajaran kooperatif tipe kepala bernomor
2.6.       Model pembelajaran kooperatif tipe kepala bernomor berstruktur
2.7.       Model pembelajaran kooperatif tipe dua tinggal dua tamu
2.8.       Model pembelajaran kooperatif tipe keliling kelompok
2.9.       Model pembelajaran kooperatif tipe kancing gemerincing
2.10.   Model pembelajaran kooperatif tipe keliling kelas
2.11.   Model pembelajaran kooperatif tipe lingkaran kecil lingkaran  besar
2.12.   Model pembelajaran kooperatif tipe tari bambu
2.13.   Model pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan
2.14.   Model pembelajaran kooperatif tipe STAD
2.15.   Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
2.16.   Model pembelajaran kooperatif tipe think pair and share
  1. Model pembelajaran missouri mathematics project (MMP)
  2. Model pembelajaran penemuan terbimbing
  3. Model pembelajaran berdasarkan masalah
  4. Model pembelajaran problem posing
  5. Model pembelajaran TGT
  6. Model pembelajaran problem solving
  7. Model pembelajaran kontekstual
  8. Model pembelajaran example non example
  9. Model pembelajaran role playing
  10. Model pembelajaran group investigation
13.  Model pembelajaran cooperative integrated reading and composition (CIRC)

3.    LANGKAH-LANGKAH PADA MODEL PEMBELAJARAN
Tiap model pembelajaran memiliki sintaksnya masing-masing. Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran adalah pola yang menggambarkan urutan alur tahap-tahap keseluruhan yang pada umumnya disertai dengan serangkaian kegiatan pembelajaran. Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran tertentu menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang harus dilakukan oleh guru atau siswa.
1.      Model pembelajaran langsung
Sintaknya:
No.
Langkah-langkah
Peran Guru
1.
Menjelaskan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan siswa
Guru menjelaskan TPK, informasi latar belakang pembelajaran, pentingnya pelajaran dan memotivasi siswa
2.
Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan
Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar, atau memberi informasi tahap demi tahap
3.
Membimbing pelatihan
Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal
4.
Menelaah pemahaman dan memberikan umpan balik
Guru mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik dan memberikan umpan balik
5.
Memberikan kesempatan untuk pelatihan dan penerapan
Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, khusus penerapan pada situasi kompleks dalam kehidupan sehari-hari.

2.      Model pembelajaran kooperatif
No
Langkah-langkah
Peran Guru
1.
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan cara demonstrasikan atau lewat bahan bacaan
2.
Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
3.
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas-tugas
4.
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari dan juga terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok
5.
Memberi penghargaan
Guru mencari cara-cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar individu maupun kelompok

2.1. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD
No
Langkah-langkah
Peran Guru
1
Langkah 1
Guru menyampaikan materi pembelajaran ke siswa secara klasikal (paling sering menggunakan model pembelajaran langsung,
2
Langkah 2
Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok (setiap kelompok terdiri dari 4 – 6 siswa yang heterogen, baik dari segi kemampuan, agama, jenis kelamin, atau lainnya).
3
Langkah 3
Dilanjutkan diskusi kelompok untuk penguatan materi (saling bantu membantu untuk memperdalam materi yang sudah diberikan)
4
Langkah 4
Guru memberikan tes individual, masing-masing mengerjakan tes tanpa boleh saling bantu membantu diantara anggota kelompok.
5
Langkah 5
Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan individual dari skor dasar ke skor kuis (cara penilaian akan dijelaskan di akhir bab ini)

2.2. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
*     
- Misal 1 kelas: 40 anak
- Ada 5 topik yang akan dipelajari
- Kelompok asal ( 40:5 = 8 kel.)
 
Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok (disebut dengan kelompok asal, setiap kelompok terdiri dari 4 – 6 siswa dengan kemampuan yang heterogen). Setiap anggota kelompok nantinya diberi tugas untuk memilih dan mempelajari materi yang telah disiapkan oleh guru (misal ada 5 materi/topik).



Kelompok Asal
 
 



*      Di kelompok asal, setelah masing-masing siswa menentukan pilihannya , mereka langsung membentuk kelompok ahli berdasarkan materi yang dipilih. Ilustrasinya adalah sebagai berikut:


 





Setelah setiap kelompok ahli mempelajari (berdiskusi) tentang materinya masing-masing, setiap anggota dalam kelompok ahli kembali lagi ke kelompok asal untuk menjelaskan/menularkan apa-apa yang telah mereka pelajari/diskusikan di kelompok ahli. Ilustrasinya adalah sebagai berikut:


 







*   Dalam tipe ini peran guru lebih banyak sebagai fasilitator, yaitu memfasilitasi agar pelaksanaan kegiatan diskusi dalam kelompok ahli maupun penularan dalam kelompok asal berjalan secara efektif dan optimal.
*   Setelah masing-masing anggota dalam kelompok asal selesai menyampaikan apa yang dipelajari sewaktu dalam kelompok ahli, guru memberikan soal/kuis pada seluruh siswa. Soal harus dikerjakan secara individual.
*   Nilai dari pengerjaan kuis individual digunakan sebagai dasar pemberian nilai penghargaan untuk masing-masing kelompok. Teknik penilaian/penghargaan akan dijelaskan tersendiri di akhir bab pembelajaran kooperatif ini.

2.3. Model pembelajaran kooperatif tipe think pair and share
*   Guru mengajarkan materi seperti biasa, alat peraga disarankan .
*   Dengan tanya jawab, guru memberikan contoh soal.
*   Guru memberikan soal yang dikerjakan siswa berdasar persyaratan soal sebagai problem.
*   Siswa dipandu guru menyelesaikan soal.
*   Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
*   Berawal dari kegiatan tersebut mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diuangkapkan para siswa
*   Guru memberi kesimpulan
*   Penutup
2.4.   Model Pembelajaran Kooperatif tipe Make and Match
Ø  Dikembangkan oleh Lama Curran (1994)
Ø  Siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang meyenangkan
Ø  Bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik
Sintaknya:
a)    Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa topik yang mungkin cocok untuk sesi review (persiapan menjelang tes ujian).
b)   Setiap siswa mendapatkan satu kartu.
c)    Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya. Misalkan, pemegang kartu yang bertuliskan “SBY” berpasangan dengan pemegang kartu yang bertuliskan “PRESIDEN RI”.
d)   Siswa bisa juga bergabung dengan 2 atau 3 siswa lain yang memegang kartu yang cocok. Misalnya, pemegang kartu 3+3 membentuk kelompok dengan pemegang kartu 2x4 dan 1x5 (Turmuzi, 2012: 125).
2.5.   Model pembelajaran kooperatif tipe Bertukar pasangan
*      Memberi kesempatan siswa untuk bekerja sama dengan orang lain
*      Bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik
Sintaknya:
a.       Setiap siswa mendapatkan satu pasangan (guru bisa menunjuk pasangannya atau siswa melakukan prosedur MAKE AND MATCH).
b.      Guru memberikan tugas dan siswa mengerjakan tugas dengan pasangannya.
c.       Setelah selesai, setiap pasangan bergabung dengan satu pasangan yang lain.
d.      Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan. Masing-masing pasangan yang baru ini kemudian saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban mereka.
e.      Temuan baru yang didapat dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula (Turmuzi: 2012:125-126)

2.6.   Model pembelajaran kooperatif tipe berpikir-berpasangan-bereempat
*      Dikembangkan oleh Frank Lyman dan Spencer Kagan sebagai struktur kegiatan pembelajaran gotong royong.
*      Memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain.
*      Optimalisasi partisispasi siswa.
*      Dengan metode klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk seluruh kelas.
*      Memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenai dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain.
*      Bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
Sintaknya:
a.       Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok.
b.      Setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri.
c.       Siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi dengan pasangannya.
d.      Kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat. Siswa mempunyai kemampuan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat.

2.7.   Model pembelajaran kooperatif tipe berkirim salam dan soal
*      Teknik ini memberi siswa kesempatan untuk melatih pengetahuan dan keterampilannya.
*      Siswa membuat pertanyaan sendiri, sehingga akan merasa lebih terdorong untuk belajar dan menjawab pertanyaan yang dibuat oleh teman-teman sekelasnya.
*      Cocok untuk persiapan menjelang ujian dan tes.
*      Bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan semua tingkatan usia anak didik.
Sintaknya:
a.       Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan setiap kelompok ditugaskan untuk menulis beberapa pertanyaan yang akan dikirim ke kelompok yang lain. Guru bisa mengawasi dan membantu memilih soal-soal yang cocok.
b.      Kemudian, masing-masing kelompok mengirimkan satu orang utusan yang akan menyampaikan salam dan soal dari kelompoknya (Salam kelompok bisa berupa sorak kelompok seperti yang dijelaskan).
c.       Setiap kelompok mengerjakan soal kiriman dari kelompok lain.
d.      Setelah selesai, jawaban masing-masing kelompok dicocokkan dengan jawaban kelompok yang membuat soal.

2.8.   Model pembelajaran kooperatif tipe kepala bernomor
*     Dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992)
*     Memberikan kesempatan kepada siswa untuk salaing membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat.
*     Mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka.
*     Bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
Sintaknya:
a.       Siswa dibagi dalam kelompok. Setiap siswa dalam setiap kelompok mendapatkan nomor.
b.      Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
c.       Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan semua anggota kelompok mengetahui jawabannya.
d.      Guru memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka.
2.9.   Model pembelajaran kooperatif tipe kepala bernomor berstruktur
*      Teknik belajar ini merupakan pengembangan dari teknik Kepala Bernomor.
*      Memudahkan pemberian tugas
*      Memudahkan siswa belajar melaksanakan tanggung jawab pribadinya dalam saling keterkaitan dengan rekan sekelompoknya.
*      Bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
Sintaknya:
a.       Siswa dibagi dalam kellompok. Setiap siswa dalam setiap kelompok mendapatkan nomor.
b.      Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomornya.
Misalnya: Siwa nomor 1 bertugas membaca soal dengan benar dan mengumpukan data yang mungkin berhubungan dengan penyelesaian soal. Siswa nomor 2 mencari penyelesaian soal. Siwa nomr 3 mencatat dan melaporkan hasil kerja kelompok.
c.       Jika perlu (untuk tugas-tugas yang lebih sulit), guru juga bisa mengadakan kerja sama antar kelompok. Siswa bisa diminta keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa yang bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini, siswa-siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja mereka.
Catatan: Untuk efisiensi pembentukan kelompok dan penstrukturan tugas, Teknik Kepala Benomor ini bisa dipakai dalam kelompok dan nomornya sepanjang semester. Supaya ada pemerataan tanggung jawab, penugasan berdasarkan nomor bisa diubah-ubah. Misalny siswa nomor 1 bertugas mengumpulkan data kali ini, tapi akan bertugas melaporkan pada kesempatan lain.
Untuk Variasi: Struktur Kepala Bernomor ini juga bisa dilanjutkna untuk mengubah komposisi kelompok dengan cara yang efisien, pada saat-saat tertentu, siswa bisa keluar dari kelopok biasanya dan bergabung dengan siswa-siswa lain yang bernomor sama dari kelompok lain. Cara ini bisa digunakan untuk mengurangi kebosanan jika guru mengelompokkan secara permanen.
2.10.      Model pembelajaran kooperatif tipe dua tinggal dua tamu
*      Dikembangkan Spencer Kagan (1992).
*      Dapat diguanan bersama dengan Teknik Kepala Bernomor.
*      Bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
*      Memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lain.
Sintaknya
a.       Siwa bekerja sama dengan kelompok seperti biasa.
b.      Setelah selesai, dua orang dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya danmasing-masing bertamu ke dua kelompok.
c.       Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka.
d.      Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.
e.      Kelompok mencocokkan dan membahas hasil kerja mereka.
2.11.      Model pembelajaran kooperatif tipe keliling kelompok
v  Teknik ini biasa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia.
v  Dalam kegiatan keliling kelompok, masing-masing anggota kelompok mendapatkan kesempatan untuk memberikan kontribusu mereka dan mendenganrkan pandangan dan pemikiran anggota lain.
Sintaknya:
a.       Salah satu siswa masing-masing kelompok memulai dengan memberikan pandangan dan pemikirannya mengenai tugas yang sedang mereka kerjakan.
b.      Siswa berikutnya juga ikut memberikan kontribusinya.
c.       Demikian, seterusnya, giliran bicara bisa dilaksanakan menurut arah perputan jarun jam atau dari kiri ke kanan.
2.12.      Model pembelajaran kooperatif tipe kancing gemerincing
*      Dikembangakan oleh Spencer Kagan (1992)
*      Bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
*      Dalam kegiatan Kancing Gemerincing, masing-masing anggota kelompom mendapatkan kesempatan untuk memberikan kontribusi mereka dan mendenganrkan pandangan dan pemikiran anggota yang lain.
*      Teknik ini dapat digunakan untuk mengatasi hambatan pemerataan kesempatan yang sering mewarnai kerja kelompok.
*      Dalam banyak kelompok, sering ada anak yang terlalu dominan dan banyak bicara. Sebaliknya ada juga anak yang pasrah saja pada rekannya yang lebih dominan. Dalam situai seperti ini, pemerataan tanggung jawab dalam kelompok bisa tidak tercapau karena ank pasif terlalu menggantungkan diri kepada rekannya yang lebih dominan.
*      Teknik ini memastikan setiap siswa mendapatkan kesempatan untuk berperan serta.
Sintaknya:
a.       Guru menyiapkan satu kotak kecil berisi kancing-kancing (atau benda kecil lainnya).
b.      Sebelum kelompok memulai tugasnya, setiap siswa masing-masing kelompok mendapatkan 2 atau 3 buah kancing (jumlah kancing tergantun pada sukarnya tidaknya tugas yang diberikan).
c.       Setiap siswa berbicara atau mengeluarkan pendapat, dia harus menyerahkan salah satu kancingnya  dan meletakkannya di tengah-tengah.
d.      Jiak kancing yang dimiliki siswa habis, dia tidak boleh berbicara lagi sampai semua rekannya juga menghabiskan kancingnya.
e.      Jiak semua kancing sudah habis padahal tugas belum selesai, kelompok boleh mengambil kesepakatan untuk membagi-bagi kancing lagi dan mengulang prosedurnya kembali.
2.13.      Model pembelajaran kooperatif tipe keliling kelas
*      Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
*      Bila teknik ini digunakan anak-anak tingkat dasar, maka perlu disetai dengan manajemen kelas yang baik supaya tidak terjadi kegaduhan.
*      Measing-masing kelompok mendapatkan kesempatan untuk memamerkan hasil kerjanya dan melihat hasil kerja kelompok lain.
Sintaknya:
a.       Siswa bekerja sama dalam kelompok seperti biasa.
b.      Setelah selesai, masing-masing kelompok memamerkan hasil kerja kelompoknya.  Hasil-hasil ini bisa dipajang di beberapa bagian kelas jika berupa poster atau gambar-gambar.
c.       Masing-masing kelompok berjalan keliling kelas dan mengamati hasil karya kelompok lain.

2.14.      Model pembelajaran kooperatif tipe lingkaran kecil lingkaran  besar
*      Dikembangkan oleh Spencer Kagan.
*      Untuk memberikan kesempatan pada siswa agar saling berbagi informasipada saat yang bersaman.
*      Pendekatan ini bisa digunakan dlam beberapa mata pelajaran seperti ilmu sosial, agama, bahasa, matematika. bahan pelajaran yang paling cocok digunakan untuk teknik ini adalah bahan yang membutuhkan pertukaran pikiran dan informasi antar siswa.
*      Salah satu keunggulan teknik ini adalah adanya struktur yang jelas dan memungkinkan siswa utnuk berbagi dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur.
*      Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dlaam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk megolah informasi dan meningkatkanketerampilan berkomunikasi.
*      Bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
Sintaknya:
LINGKARAN INDIVIDU
a.       Separuh kelas (atau seperempat jika jumlahnya terlalu banyak) berdiri membentuk lingkaran kecil. Mereka berdiri melingkar menghadap keluar.
b.      Separuh kelas lainnya membentuk lingkaran di luar lingkaran ayang pertama. Artinya mereka berpasangan dengan siswa yang berada di lingkaran dalam.
c.       Dua siswa yang berpasangan dari lingkaran kecil yang memulai. Pertukaran informasi ini bisa dilakukan oleh semua pasangan dlam waktu yang bersamaan.
d.      Kemudian siswa yang beradadi lingkaran kecil dian di tempat, sementara siswa berada di lingkaran besar bergeser satu atau dua langkah searah perputaran jarum jam. Dengan cara in, masing-masing siswa mendapatkan pasangan yang baru untuk berbagi.
e.      Sekrang giliran siswa yang berada di lingkaran besar yang membagikan informasi. Demikian seterusnya.
LINGKARAN KELOMPOK
a.         Satu kelompok berdiri di lingkaran kecil mengahadap keluar. Kelompok lain berdiri di lingkaran besar.
b.         Kelompok berputar seperti prosedur lingkaran individu yang dijelaskan di atas dan saling berbagi.

2.15.      Model pembelajaran kooperatif tipe tari bambu
*      Teknik ini dikembangkan dari teknit Lingkaran Besar dan Lingkaran Kecil.
*      Di banyak kelas, dalam Lingkaran Besar dan Lingkaran Kecil sering tidak dapat dipenuhi karena kondisi penataan  ruang kelas tidak menunjang. Tidak ada cukur ruang di dalam kelas untuk membentuk lingkaran dan tidak selalu memungkinkan untuk membawa siswa keluar dari ruang kelas dan belajar di luar empat dinding ruang kelas. Kebanyakan ruang kelas di Indonesia memang ditata dengan model kalsikal/tradisional. Bahkana banyak penataan  tradisiolan ini bersifat permanen, yaitu kusri dan meja sulit dipindahkan.
*      Teknik ini diberu nama Tari Bambu karena siswa berjajar dan saling berhadapan dengan model yang mirip seperti dua potong bambu yang digunakan dalam Tari Bambu Filipina yang jugapopuler di beberapa daerah di Indonesia.
*      Dalam kegiatan belajar mengajar teknik ini, siswa saling berbagi informasi pada saat yang bersamaan.
*      Pendekatan ini bisa digunakan dalam beberapa mata pelajaran, seperti IPS, agama, matematika, dan bahasa.
*      Bahan pelajaran yang paling cocok digunakan dalam teknik ini adalah bahan ynag membutuhkan pertukaran pengalaman, pikiran, dan informasi antarsiswa.
*      Salah satu keunggulan teknik ini adalah adanya struktur yang jelas dan memungkinkan siswa untuk berbagi dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur.
*      Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak  kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
*      Tari Bambu bisa digunakan pada semua tingkat usia anak didik
Sintaknya:
Tari bambu individu
a.       Separuh kelas (atau seperempat jika jumlah siswa terlalu banyak) berdiri berjajar. Jika ada cukup ruang, mereka bisa berjajar di depan kelas. Kemungkinan lain adalah siswa berjajar di sela-sela deretan bangku. Cara yang kedua ini akan memudahkan pembentukan kelompok karena diperlukan waktu yang relatif singkat.
b.      Separuh kelas lainnya berjajar dan menghadap jajaran pertama.
c.       Dua siswa yang berpasangan dari kedua jajaran berbagi informasi.
d.      Kemudian, satu atau dua siswa yang berdiri di ujung salah satu jajaran pindah ke ujung lainnya di jajarannya. Jajaran ini kemudian bergeser. Dengan cara ini, masing-masing siswa mendapatkan pasangan yang baru untuk berbagi. Pergeseran bisa dilakuakn terus sesuai kebutuhan.
Tari bambu kelompok
a.       Satu kelompok berdiri di satu jajaran berhadapan dengan kelompok lain.
b.      Kelompok bergeser seperti prosedur Tari Bambu Individu di tas dan saling berbagi.

2.16.      Model pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan
*      Teknik ini bisa digunakan dalam pembelajaran membaca, menulis, mendengarkan atau berbicara.
*      Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara.
*      Pendekatan ini bisa pula digunakna dalam beberapa mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan sosial, agama dan bahasa.
*      Bahan pelajaran yang paling cocok digunakan denga teknik ini adalah bahan yang bersifat naratif dan deskriptif.
*      Dalam teknik ini, guru memperhatikan skema atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skema ini agar kegiatan pembelajaran lebih bermakna.
*      Dalam kegiatan ini, siswa dirangsang untuk mengembangkan kemampuan berpikin dan berimajinasi, buah pemikiran mereka akan dihargai, sehingga siswa merasa makin terdorong untuk belajar.
*      Teknik ini bisa digunakan untuk semua tingkatan usia peserta didik.
Sintaknya:
a.       Pengajar membagi bahan pelajaran yang akan diberikan menjadi dua bagian.
b.      Sebelum bahan pelajaran diberikan, pengajar memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas dalam bahan pelajaran untuk hari itu. Pengajar bisa menuliskan topik di papan tulis dan menanyakan apa yang siswa ketahui mengenai topik tersebut. Kegiata brainstorming ini dimaksudkan untukmengaktifkan skema siswa agar lebih siap menghadapi bahan pelajaran yang baru. Dalam kegiatan ini, pengajar pelu menekankan bahwa memberikan tebakan yang benar buaknalah tujuannya. Yang lebih penting adalah kesiapan mereka dalam mengantisipasi bahan pelajaran yang akan diberikan hari itu.
c.       Siswa dipasangkan.
d.      Bagian pertama bahan diberikan kepada siswa yang pertama. Sedangkan siswa yang kedua menerima bagian yang kedua.
e.      Kemudian siswa diminta untuk membaca atau mendenganrkan (dalam pelajran di laboratorium).
f.        Sambil membaca/mendengarkan, siswa diminta untuk mencatat dan mendaftar bebrapa kata ata frasa kunci yang ada dalam bagian masing-masing. Jumlah kata atau frase biasa disesuaikan dengan panjangnya teks bacaan.
g.       Setelah selesai membaca, siswa saling menukar daftar kata atau frase kunci dengan pasangan masing-masing.
h.      Sambil mengingat bagian yang telah dibaca sendiri, masing-masing siswa berusaha untuk mengarang bagian lain yang belum dibaca atau didengarkan berdasarkan kata atau frase yang diberikan pasangannya. Siswa yang mendapatkan materi pertama berusaha menuliskan apa yang akan terjadi selanjutnya sedangkan siswa yang mendapat materi kedua berusaha menuliskan apa yang terjadi sebelumnya.
i.         Tentu saja, versi karangan sendiri tidak harus sama dengan aslinya. Tujuan kegiatan ini bukan untuk mendapatkan jawaban yang benar tetapi untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Setelah selesai menulis, bebrapa siswa diberikan kesempatan untuk membacakan hasil karangan mereka.
j.        Kemudian pengajar membagikan bagian cerita yang belu terbaca kepada masing-masing siswa. Siswa membaca bagian tersebut.
k.       Kegiatan ini bisa diakhiri dengan diskusi mengenai topik dalam bahan pelajaran hari itu. Diskusi bisa dilakukan antara pasangan atau dengan seluruh kelas.

3.      Model pembelajaran missouri mathematics project (MMP)
Sintaknya menurut Widdiharto (2006:30):
*   Langkah pertama        :     Review
§  dengan cara mengulah ulang mata   pelajaran yang lalu,
§  membahas tugas yang diberikan /pekerjaan rumah.
*   Langkah kedua            : Pengembangan
§  penyajian ide baru atau perluasan  konsep matematika yang  terdahulu
§  penjelasan tentang diskusi, demonstrasi, dengan contoh kongkret yang sifatnya piktoral dan simbolik.
*   Langkah ketiga            :   Latihan Terkontrol
§  siswa merespon soal
§  guru mengamati
§  belajarnya kooperatif
*   Langkah keempat        :  Seatwork
§  siswa bekerja sendiri untuk latihan atau perluasan konsep
*   Langkah kelima           :  Pekerjaan Rumah
§  Tugas membuat pekerjaan  rumah.
4.      Model pembelajaran penemuan terbimbing
Langkah yang ditempuh  oleh guru dalam pembelajaran    adalah sebagai berikut :
*       Merumuskan masalah yang diberikan kepada siswa dengan data secukupnya. Perumusan  harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang di tempuh siswa tidak salah.
*       Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang di perlukan. Bimbingan sebaiknya mengarah siswa untuk melangkah ke arah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan, atau lembar kerja siswa (work sheet).
*       Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasi analisis yang dilakukan
*       Konjektur yang telah dibuat siswa, diperiksa oleh guru. Hal ini digunakan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.
*       Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur teresbut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan kepada siswa untuk menyusunnya.
*       Sesudah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan. 

5.      Model pembelajaran berdasarkan masalah
No.
Indikator
Kegiatan Guru
1
Orientasi siswa kepada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang diperlukan, memotivasi siswa terlibat aktif dan kreatif dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya
2
Mengorganisasikan siswa untuk belajar
Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut
3
Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai  dan melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah
4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya
5
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan

6.      Model pembelajaran problem posing
Prinsipnya:mewajibkn siswa untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar soal secarr mandiri.
Sintaknya adalah sebagai berikut:
a.    guru menjelaskan materi pelajaran, alat peraga disarankan,
b.    memberikan latihan soal secukupnya,
c.    siswa mengajukan soal yang menantang dan dapat menyelesaikan. Bisa secara kelompok,
d.    pertemuan berikutnya, guru menyuruh siswa menyajikan soal temuan di depan kelas,
e.    guru memberikan tugas rumah secara individual.

7.      Model pembelajaran TGT (Teams Games Tournament)
a.      Beri informasi secara klasikal
b.      Bentuk kelompok beranggotakan 4-5 siswa (kemampuan siswa heterogen)
c.       Diskusi kelompok untuk penguatan pemahaman materi yang dikaitkan dengan kuis/latihan yang telah diberikan (mempelajari kembali)
d.      Permainan/turnamen (dalam setiap kelompok diwakili satu orang)
e.      Beri soal untuk dilombakan
f.        Beri penghargaan pada kelompok yang wakilnya dapat maju terus sampai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

8.      Model pembelajaran problem solving
Syarat (siswa)
a.    Memlki prasyarat untuk mngerjakan soal tersebut.
b.    Belum tahu cara pemecahan soal tersebut.
c.    Soal terjangkau
d.     Siswa mau dan berkehendak untuk menyelesaikan soal tersebut
 Langkah guru
a.    Guru mengajarkan materi seperti biasa, alat peraga disarankan .
b.    Dengan tanya jawab, guru memberikan contoh soal.
c.    Guru memberikan soal yang dikerjakan siswa brdsar persyaratan soal sebagai problem.
d.    Siswa di pandu guru menyelesaikan soal.

9.      Model pembelajaran kontekstual
v  Konstruktivisme
o  Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal
o  Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan
v  Inquiri (menemukan)
o   Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman
o   Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis
v  Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa
o  Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry
v  Learning Community (masyarakat belajar)
o       Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar
o       Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri
o       Tukar pengalaman
o       Berbagi ide
v  Modeling  (pemodelan)
o       Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar
o       Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya
v  Authentic Assesment (penilaian yang sebenarnya)
o       Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa
o       Penilaian produk (kinerja)
o       Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual
o       Reflection (refleksi)
o       Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari
o       Mencatat apa yang telah dipelajari
o       Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok
10.  Model pembelajaran example non example
CONTOH DAPAT DARI KASUS/GAMBAR YANG RELEVAN DENGAN KD
Langkah-langkah :
                    i.          Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
                  ii.          Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP.
                iii.          Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar.
                iv.          Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.
                  v.          Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.
                vi.          Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.
              vii.          Kesimpulan.

11.  Model pembelajaran role playing
Langkah-langkah :
*       Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan
*       Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua hari sebelum kbm
*       Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang
*       Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai
*       Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan
*       Masing-masing siswa duduk di kelompoknya, masing-masing sambil memperhatikan mengamati skenario yang sedang diperagakan
*       Setelah selesai dipentaskan, masing-masing siswa diberikan kertas sebagai lembar kerja untuk membahas
*       Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya
*       Guru memberikan kesimpulan secara umum
*       Evaluasi
*       Penutup

12.  Model pembelajaran group investigation
Langkah-langkah :
*        Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen
*        Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok
*        Guru memanggil ketua-ketua untuk satu materi tugas sehingga satu kelompok mendapat tugas satu materi/tugas yang berbeda dari kelompok lain
*        Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif berisi penemuan
*        Setelah selesai diskusi, lewat juru bicara, ketua menyampaikan hasil pembahasan kelompok
*        Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberi kesimpulan
*        Evaluasi
*        Penutup
13.  Model pembelajaran cooperative integrated reading and composition (CIRC)
Langkah-langkah :
*   Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen
*   Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran
*        Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas
*   Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok
*   Guru membuat kesimpulan bersama
*   Penutup

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
a.      Model pembelajaran adalah serangkaian kegiatan pembelajaran yang secara khas disajikan oleh guru guna menciptakan iklim belajar yang lebih kondusif untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
b.      Macam-macam model pembelajaran yaitu: Model pembelajaran langsung, kooperatif, missouri mathematics project (MMP), penemuan terbimbing, pembelajaran kontekstual, model pembelajaran example non example, role playing, group investigation dan cooperative integrated reading and composition (CIRC).
c.       Model pembelajaran kooperatif juga memiliki beberapa tipe yaitu tipe Make and Match, tipe bertukar pasangan, tipe berpikir-berpasangan-bereempat, tipe berkirim salam dan soal, tipe kepala bernomor,  tipe kepala bernomor berstruktur, tipe dua tinggal dua tamu, tipe keliling kelompok, tipe kancing gemerincing, tipe keliling kelas, tipe lingkaran kecil lingkaran  besar, tipe tari bambu, tipe bercerita berpasangan, tipe STAD, tipe jigsaw, dan tipe think pair and share.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation Untuk          Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran Produktif Multimedia Siswa Kelas X   SMKN 1 Cerme Gresik. http://blog.tp.ac.id/penerapan-model-pembelajaran-          kooperatif-tipe-group-investigation-untuk-meningkatkan-hasil-belajar-mata-     pelajaran-produktif-multimedia-siswa-kelas-x-smkn-1-cerme-gresik (diakses 2 April    2013)
Ismail. 2003. Media Pembelajaran (Model-model Pembelajaran), Modul Diklat Terintegrasi       Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Matematika. Jakarta: Direktorat PLP
Rahmadi Widdiharto. (2006). Model-model Pembelajaran Matematika. Makalah Diklat Guru     Pengembang Matematika SMP. Yogyakarta: PPPG Matematika.
Rahmi, Ulfia. 2011. Model-Model Sistem Pembelajaran. http://tepenr06.wordpress.com/             2011/09/07/model-model-sistem-pembelajaran/ (Diakses 2 April 2013)
Turmuzi, Muhammad. 2012. Strategi Pembelajaran Matematika. Mataram :        Fakultas           Keguruan dan Imu Pendidikan Program Studi Pendidikan           Matematika Universitas         Mataram

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar